SAMPIT – Dalam waktu dekat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan menerapkan Car free Day(CFD) di Taman Kota Sampit. Terkait hal itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotim, Dadang Siswanto menegaskan CFD seharusnya menjadi strategi peningkatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“CFD ini seharusnya menjadi strategi yang tepat bagi peningkatan UMKM,” kata anggota legislatif Dapil 2 Baamang-Seranau ini, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Putra H Syamsu, tokoh masyarakat Kecamatan Baamang ini juga menyebutkan, penerapan CFD yang akan resmi dimulai 15 Semptember ini cukup menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
Pria yang lebih akrab disapa Dadang H Syamsu ini menegaskan CFD harus memberikan nilai manfaat bagi peningkatan perekonomian masyarakat, bukan sebaliknya.
“CFD seharusnya menjadi strategi untuk meningkatkan pendapatan UMKM, bukan sebaliknya,” cetus Dadang.
Tentu, pro dan kontra itu ada alasannya. Sebagian warga mendukung CFD dengan harapan terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman untuk olahraga.
Namun sejumlah pengusaha UMKM mengkhawatikan relokasi lokasi dagangannya untuk CFD menyebabkan pendapatan mereka menurun.
Dalam perkembangannya, lokasi di Taman Kota Sampit sudah berulangkali dilakukan penataan. Pasca konflik 2001, Taman Kota dijadikan tempat usaha pedagang kaki lima, yang kemudian pedagang kaki lima dipindahkan ke pertokoaan eks Mentaya Bioskop.
Pembersihan lokasi juga dilakukan di sekitar Tamah Kota, yaitu di Jalan DI Panjaitan di depan hutan kota PT Inhutani III.
Akhir-akhir ini, bermunculan kembali pedagang kaki lima dengan fasilitas mobil sebagai tempat jualannya yang terkesan bonafit dibanding gerobak dorong.
Belakangan, lokasi yang strategis itu menumbuhkan usaha kaki lima baru baik menggunakan gerobak maupun mobil, dengan berbagai macam jualan kuliner.








