Dosen Harus Naik Level di Era AI, Jika Tak Upskilling Terancam Tertinggal

- Publisher

Senin, 2 Maret 2026 - 04:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IST/Foto: Muhammad Azharul Hadi.,S.Kep.,Ners.,M.Mkes

IST/Foto: Muhammad Azharul Hadi.,S.Kep.,Ners.,M.Mkes

SAMPIT – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memaksa dunia pendidikan tinggi beradaptasi cepat. Tanpa upaya peningkatan kapasitas diri (upskilling), penguatan keterampilan (reskilling), serta penguasaan teknologi baru, institusi pendidikan dan tenaga pendidik terancam tertinggal oleh laju perubahan zaman.

Tenaga pendidik di Universitas Muhammadiyah Sampit, M. Azharul Hadi, menilai pendidikan ibarat eskalator yang terus bergerak. Siapa pun yang berhenti melangkah akan tertinggal.

“Kalau kita tidak melakukan upskilling, reskilling, dan menguasai keterampilan baru, kita akan tertinggal. Pendidikan itu seperti eskalator untuk meningkatkan kapasitas diri. Agar tetap relevan, kita harus terus meng-upgrade diri, baik melalui jalur akademik maupun non-akademik,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Azharul, transformasi digital juga membuka akses belajar yang jauh lebih luas. Tenaga pendidik dan mahasiswa kini dapat memperkaya kompetensi melalui kelas daring, webinar, hingga platform pembelajaran berbasis streaming.

“Sekarang ilmunya bisa diakses lewat digital. Kita bisa ikut kelas-kelas online, pelatihan virtual, bahkan sertifikasi internasional tanpa harus meninggalkan tempat tinggal. Ini peluang besar kalau dimanfaatkan dengan serius,” tambahnya.

Baca Juga :  Khariah Apresiasi Kinerja Kwarran Ranting Baamang

Di era AI, peran dosen tidak lagi sebatas penyampai materi (transmitter of knowledge), melainkan bertransformasi menjadi perancang pengalaman belajar (learning experience designer), mentor, sekaligus fasilitator yang menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa. AI diposisikan sebagai asisten yang meningkatkan produktivitas, sementara dosen tetap memegang kendali pada aspek kemanusiaan, etika, dan kreativitas.

Sejumlah peran strategis dosen di era kecerdasan buatan kini semakin menonjol yaitu:

1. Fasilitator Berpikir Kritis dan Kreatif

AI mampu menjawab pertanyaan teknis, namun dosen berperan membimbing mahasiswa menyusun pertanyaan yang tepat, menganalisis kebenaran informasi, serta menyintesis hasil AI secara kritis dan etis. Mahasiswa didorong tidak sekadar menyalin jawaban AI, melainkan memahami proses berpikir di baliknya.

2. Perancang Pengalaman Belajar (Learning Experience Designer)

Dosen merancang kurikulum dan metode pembelajaran yang mengintegrasikan AI secara cerdas. Teknologi dimanfaatkan untuk mempercepat penyusunan bahan ajar dan perangkat pembelajaran, sehingga waktu dosen lebih banyak tercurah pada interaksi mendalam dengan mahasiswa.

3. Mentor Karakter dan Pembimbing Etika

AI tidak memiliki nurani, empati, maupun konteks nilai budaya. Dosen berperan membentuk karakter, membimbing pengambilan keputusan di dunia nyata, serta menanamkan etika penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Baca Juga :  SMPN 1 Sampit Tegaskan Komitmen Pendidikan Lewat Penandatanganan Fakta Integritas Orang Tua Siswa Baru

4. Kurator dan Verifikator Informasi

Di tengah banjir konten digital, dosen bertugas memastikan materi yang digunakan akurat, relevan, dan berkualitas. Hasil keluaran AI perlu diverifikasi agar tidak menyesatkan atau bias.

5. Penggerak Inovasi dan Riset

AI membantu dosen menganalisis data penelitian, mempercepat pencarian referensi, hingga meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah. Hal ini mendorong penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

6. Penilai Proses, Bukan Sekadar Hasil

Evaluasi pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada output akhir tugas, tetapi pada proses berpikir, kejujuran akademik, dan kemampuan mahasiswa memecahkan masalah secara mandiri.

Azharul menegaskan, dosen yang tidak akan tergantikan oleh teknologi adalah mereka yang terus memperbarui diri, mampu menginspirasi, serta membangun hubungan emosional dan interpersonal yang kuat dengan mahasiswa.

“Teknologi bisa membantu, tapi sentuhan kemanusiaan, keteladanan, dan inspirasi dari dosen itu tidak bisa digantikan mesin. Itu kunci agar pendidikan tetap bermakna di era AI,” pungkasnya.(nr)

Berita Terkait

Prodi Terancam Ditutup Kemdiktisaintek, Dosen Sampit Soroti Ketimpangan Lulusan dan Kebutuhan Kerja
Pentingnya Kemampuan Public Speaking bagi Generasi Muda
Tokoh HIPMI Kotim Terima Cenderamata dari Sutradara Film Anti-Bullying, Dukung Edukasi Lewat Layar Lebar
Menjaga Bara di Dua Dunia, Kusnadi Jaya dan Para Pakar Bicara Keseimbangan Kehidupan Nakes di Tengah Derasnya Arus Kerja
Ahmad Junaedi Inspirasi Gerakan Pejuang Subuh dan Gerakan Pejuang Anti Riba
Komunitas Peduli Kotim Siap Perangi dan Mendukung Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Narkoba
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 17:33 WIB

Prodi Terancam Ditutup Kemdiktisaintek, Dosen Sampit Soroti Ketimpangan Lulusan dan Kebutuhan Kerja

Senin, 2 Maret 2026 - 04:50 WIB

Dosen Harus Naik Level di Era AI, Jika Tak Upskilling Terancam Tertinggal

Minggu, 5 Oktober 2025 - 13:53 WIB

Pentingnya Kemampuan Public Speaking bagi Generasi Muda

Kamis, 7 Agustus 2025 - 20:57 WIB

Tokoh HIPMI Kotim Terima Cenderamata dari Sutradara Film Anti-Bullying, Dukung Edukasi Lewat Layar Lebar

Minggu, 27 April 2025 - 14:37 WIB

Menjaga Bara di Dua Dunia, Kusnadi Jaya dan Para Pakar Bicara Keseimbangan Kehidupan Nakes di Tengah Derasnya Arus Kerja

Berita Terbaru

SARTIJAB : Pj Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, Linae Victoria Aden, saat menghadiri Sartijab kepala Diskominfosantik Kalteng yang digelar di Ruang Bajakah, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Rabu (1/7/2026).

Palangka Raya

Linae Pimpin Sertijab Tiga OPD, Tekankan Inovasi dan Kolaborasi

Rabu, 1 Jul 2026 - 23:42 WIB