SAMPIT – Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Mei 2026 mencatat lebih dari 1,03 juta lulusan Diploma IV (D4), sarjana (S1), magister (S2), hingga doktor (S3) masih belum terserap dunia kerja. Angka tersebut mencapai 14,31 persen dari total pengangguran di Indonesia.
Fenomena ini dinilai menjadi tantangan bagi lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya bergantung pada lowongan kerja yang tersedia, tetapi juga berani menciptakan peluang baru.
Tenaga pendidik, Muhammad Azharul Hadi, S.Kep. Ners., M.MKes, mengatakan lulusan perguruan tinggi perlu memiliki pola pikir yang lebih terbuka dengan mengembangkan keterampilan, berwirausaha, serta terus belajar di luar bidang keilmuan yang ditempuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pendidikan itu pada dasarnya menimba ilmu. Setelah lulus, ilmu tersebut harus bisa diaplikasikan. Jadi jangan terpaku hanya pada satu jurusan,” ujarnya.
Menurutnya, lulusan juga perlu memperluas relasi dan tidak menutup diri terhadap berbagai peluang. Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting agar lulusan mampu mengikuti kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Azharul juga mengapresiasi langkah Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dalam menghadapi tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi melalui program pelatihan vokasi dan magang.
“Terobosan seperti pelatihan dan magang sangat bagus karena memberikan pengalaman serta keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” katanya.
Ia berharap lulusan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mulai berani menjadi pencipta lapangan kerja melalui kewirausahaan maupun pengembangan kompetensi.
Sebelumnya, Kemnaker menyatakan pemerintah menyiapkan dua langkah untuk menekan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi, yakni memperkuat pelatihan vokasi dan memperluas kesempatan magang.(nr).








