KOTAWARINGIN TIMUR – Di tengah dinamika kerja yang semakin kompleks, tenaga kesehatan Indonesia menghadapi tantangan yang tak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional dan relasional. Isu ini mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “Kualitas Kehidupan Kerja dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Rumah Tangga Tenaga Kesehatan” yang digelar Kamis (29/5) lalu, sebagai bagian dari serial edukatif “Nakes & Family”.
Webinar ini menjadi pembuka dari rangkaian diskusi nasional yang diinisiasi oleh Emergency Medical Training (EMT) 911 Jakarta, yang melihat pentingnya ruang refleksi dan berbagi bagi para tenaga kesehatan—mereka yang selama ini berdiri di garda terdepan, namun kerap mengabaikan kebutuhan diri dan keluarga sendiri.
Salah satu sorotan utama datang dari Haji Kus—sapaan akrab Ns. Kusnadi Jaya, S.Kep., M.Kep., QRMA., CRP., CHAE.—yang membuka sesi dengan membagikan pengalaman personal sebagai tenaga kesehatan yang harus menjalani kerja shift di kota berbeda dari pasangan. Dalam perannya sebagai pembicara sekaligus pendengar bagi rekan-rekan sejawat, ia menyoroti pentingnya keseimbangan emosional sebagai fondasi bagi kualitas kerja dan hubungan keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tenaga kesehatan bukan robot. Kita butuh ruang untuk merasa, memahami, dan dipahami,” ungkap Haji Kus, yang juga aktif memberikan pelatihan konseling kepada sesama nakes.
Ia juga menyampaikan refleksi mendalam dari perjalanan hidupnya sebagai seorang perawat dalam menyingkapi dinamika menjadi tenaga kesehatan yang harus bekerja di kota yang berbeda dari keluarga, dan tetap menjaga komitmen keluarga di tengah segala keterbatasan.
“Kita kadang terlalu sibuk memberi ke orang lain, sampai lupa memberi ruang untuk diri sendiri dan keluarga,” ujar Haji Kus dalam sesi yang disambut haru oleh peserta.
Webinar ini juga mempertemukan para peserta dengan dua pembicara nasional yang membawa perspektif tajam dan penuh empati. Ns. Andri Triyono, S.Kep., SH.—dikenal dengan nama Haji Ono—merupakan praktisi kesehatan jiwa dari RS Marzuki Mahdi Bogor yang membedah fenomena Burnout Syndrome.
Ia menggambarkan kondisi ini sebagai “penyakit laten” yang menggerogoti generasi pekerja muda, terutama mereka yang hidup dalam sistem kerja cepat, penuh tekanan, namun minim dukungan emosional.
“Generasi Z tumbuh dengan kecepatan, tapi bukan berarti mereka siap menghadapi tekanan tanpa dukungan,” tegas Haji Ono dalam paparannya.
Menurutnya fenomena kelelahan mental dan emosional yang makin meluas di kalangan tenaga kerja muda, terutama Generasi Z.
“Burnout bukan sekadar lelah biasa. Ini adalah alarm tubuh dan jiwa yang meminta jeda, yang sering kita abaikan,” terang Haji Ono dengan nada serius namun bersahabat.
Menutup sesi, Bunda Venny—Venny Rikarianty, ST., MM., CPEC., CCEHT.—praktisi Family Coaching dari ESQ Corp., membekali peserta dengan strategi membangun harmoni antara kehidupan profesional dan keluarga. Ia mengajak para nakes untuk mulai dari hal sederhana: membangun komunikasi sehat, memahami kebutuhan emosional pasangan dan anak, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.
“Keluarga bukan beban, tapi energi. Jika dirawat dengan kesadaran, keduanya bisa berjalan beriringan,” ujarnya.
ia mengajak peserta untuk mengenali pentingnya presence dalam keluarga. Menurutnya, sinergi antara pekerjaan dan rumah tangga bukan tentang membagi waktu secara kaku, tapi bagaimana menjadi “hadir utuh” di setiap peran.
“Kehadiran yang penuh kesadaran jauh lebih penting dari sekadar kehadiran fisik,” ungkap Bunda Venny dalam sesi interaktif yang dipenuhi refleksi para peserta
Salah satu peserta webinar dan juga sebagai tenaga pendidik di Universitas Muhammadyah Sampit, Muhammad Azharul Hadi, menyebut kegiatan ini sebagai momen penting bagi kebangkitan semangat dan kesadaran baru di kalangan tenaga kesehatan. Webinar ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas hidup nakes.
“Para narasumber tak hanya membagi ilmu, tapi juga menyampaikan pesan dalam menjaga bara semangat di dua dunia yaitu dunia kerja dan rumah tangga yang merupakan perjuangan yang bisa dimenangkan,” tuturnya.
Muhammad Azharul Hadi juga menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ruang berbagi ilmu, tetapi juga momentum penting bagi transformasi kesejahteraan para nakes.
“Webinar ini menjadi momen penting untuk peningkatan kualitas hidup tenaga kesehatan,” ucapnya.
Diharapakan Webinar Serial “Nakes & Family” ini dapat berlanjut sepanjang 2025, menyuguhkan tema-tema yang menyentuh keseharian para nakes, dengan semangat bahwa kesejahteraan tenaga kesehatan tidak hanya dibangun dari aspek finansial, tetapi juga dari hubungan yang utuh dengan diri, pekerjaan, dan keluarga.
“Dengan perubahan budaya kerja yang begitu cepat dan tekanan sistemik yang kian terasa, webinar seperti ini menjadi oase sekaligus ruang edukasi yang relevan. Dengan tema-tema yang menjangkau isu kesejahteraan emosional, komunikasi keluarga, hingga manajemen stres bagi para tenaga kesehatan di seluruh Indonesia,” tutupnya.
Webinar ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, mulai dari perawat, dokter, hingga manajer rumah sakit. Di tengah perubahan budaya kerja dan tekanan sistemik yang makin terasa, ruang-ruang dialog seperti ini dipandang sebagai kebutuhan mendesak yang harus terus dihidupkan. (nr/sekaltengcom)








