PALANGKA RAYA – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar kegiatan Temu Kader TBC yang berlangsung di salah satu Hotel di Palangka Raya, Senin (14/4). Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinkes Kalteng, dr. Suyuti Syamsul, dan dihadiri oleh para kader TBC dari berbagai kabupaten/kota.
Kegiatan ini dirancang sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas para kader yang selama ini berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan Tuberkulosis (TBC) di komunitas. Dalam sambutannya, dr. Suyuti menyampaikan bahwa TBC masih menjadi tantangan kesehatan utama baik di tingkat nasional maupun daerah.
“Setiap tahun, lebih dari satu juta orang di Indonesia jatuh sakit akibat TBC, dan sekitar 140 ribu jiwa kehilangan nyawa. Artinya, kita kehilangan rata-rata 14 orang setiap jam akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun Kalteng menunjukkan kemajuan dalam pelacakan kasus dan pemberian terapi pencegahan TBC (TPT), capaian tersebut masih belum sepenuhnya memenuhi target nasional. Hal ini, menurut Suyuti, menunjukkan bahwa peran komunitas terutama para kader harus terus ditingkatkan.
“Komunitas adalah pilar penting dalam upaya eliminasi TBC. Oleh karena itu, kapasitas, semangat, dan dukungan terhadap kader perlu diperkuat,” tegasnya.
Peringatan HTBS tahun ini mengusung tema nasional GIATKAN (Gerakan Indonesia Akhiri TBC dengan Komitmen dan Aksi Nyata), yang menekankan pentingnya kerja kolektif, keberlanjutan dukungan, dan partisipasi masyarakat. Sub-tema yang diangkat juga berfokus pada penguatan komunitas, pemanfaatan teknologi informasi, serta peningkatan pelayanan yang inklusif dan adil.
Suyuti menyoroti peran vital kader TBC sebagaimana tercantum dalam buku panduan dari Kementerian Kesehatan. Kader bukan hanya penyambung informasi, melainkan juga fasilitator dalam proses identifikasi kasus, pendampingan pasien, edukasi, hingga pelaporan dan pemantauan kontak erat.
“Keberhasilan program TBC sangat bergantung pada dedikasi para kader. Namun tentu saja, mereka tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi dari lintas sektor agar tugas-tugas kader dapat dijalankan secara efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dan refleksi, di mana para kader bisa saling berbagi pengalaman, tantangan, serta solusi yang dihadapi selama bertugas di lapangan. Selain itu, diskusi juga diarahkan untuk menyusun langkah-langkah strategis ke depan agar cakupan deteksi dini dapat diperluas, pengobatan menjadi lebih efektif, dan stigma sosial terhadap TBC bisa dikurangi.
“Kita harus menjadikan momen ini sebagai titik balik untuk memperkuat gerakan bersama menuju Indonesia bebas TBC tahun 2050, dan percepatan eliminasi pada 2030,” tandas Suyuti.
Acara ini turut dihadiri Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kalteng, Riza Syahputra, Plt. Kasi Penyakit Menular Lilyk Rakhmawaty, serta puluhan kader TBC dari seluruh kabupaten/kota di Kalteng. (nr/sekaltengcom)








