JAKARTA – Setelah absen selama satu dekade, Indonesia kembali hadir di panggung diplomasi internasional tertinggi. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan menyampaikan pidato dalam Debat Umum Sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa, 23 September 2025.
Kehadiran ini menandai komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama global, menjaga perdamaian, dan memperjuangkan kepentingan nasional di kancah dunia. Lebih jauh, Indonesia ingin menegaskan perannya sebagai pemimpin Global South yang konsisten menyuarakan reformasi tata kelola dunia agar lebih adil dan inklusif.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyebut Presiden Prabowo mendapat kesempatan berpidato pada urutan ketiga setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat. “Posisi ini menunjukkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pidato di Majelis Umum PBB bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen strategis. Ada beberapa alasan penting yaitu Forum unik dengan 193 negara anggota yang setara suaranya, Ajang advokasi kebijakan untuk menjelaskan prioritas nasional dan visi global,
Kesempatan membangun konsensus atas isu kritis dunia, mulai dari perdamaian, hak asasi manusia, hingga iklim serta Memengaruhi arah keputusan internasional dan pembentukan norma global dan Menangani krisis dunia seperti perang Gaza, konflik Rusia–Ukraina, dan tantangan ekonomi global.
Sidang tahun ini akan diwarnai isu Gaza yang semakin memburuk. Perang Israel–Hamas mendekati tahun kedua dengan dampak kemanusiaan besar. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dipastikan hadir, sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas hanya berpidato secara virtual setelah ditolak visanya oleh Amerika Serikat.
Konflik Rusia–Ukraina juga diprediksi menyita perhatian. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy akan menggalang dukungan global, sedangkan Presiden AS Donald Trump berupaya mendorong mediasi damai.
Indonesia menjadikan forum ini sebagai panggung penting untuk mengangkat kepentingan negara berkembang. Prabowo diperkirakan menekankan pentingnya multilateralisme, perdamaian dunia, dan keadilan global, sekaligus menawarkan solusi atas ketimpangan yang masih dihadapi negara-negara Selatan.
“Sidang Majelis Umum tahun ini menjadi momentum penting. Indonesia tidak hanya kembali tampil, tetapi juga menegaskan posisi sebagai pemimpin Global South,” kata Teddy.
Dengan pidato yang disampaikan di awal sesi, Prabowo diharapkan mampu mempertegas sikap Indonesia: membangun dunia yang damai, adil, dan inklusif, sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia selalu berpihak pada kepentingan rakyat dan kemanusiaan. (nr/sekaltengcom/gerindra/sekrekabinet)








