SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menargetkan pembangunan Jembatan Mentaya akan dilaksanakan pada tahun 2025. Target pembangunan itu menjadi harapan besar masyarakat, termasuk Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotim, Abdul Kadir. Semoga rencana pembangunan itu tidak pupus.
Abdul Kadir mengatakan, jika rencana pembangunan Jembatan Mentaya yang tertunda-tunda beberapa kali itu bisa terlaksana, tentu memberikan aksesbilitas masyarakat untuk menghubungkan antara Kota Sampit dan Kecamatan Seranau lebih baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, Kecamatan Seranau yang jaraknya sangat dekat dengan Kota Sampit sebagai ibukota kabupaten, tampak lebih terisolir daripada kecamatan lain di sekitar Kota Sampit.
“Rencana pembangunan jembatan ini memang sangat ditunggu masyarakat sejak bertahun-tahun lamanya. Terutama rencana ini, sudah mulai digaungkan sejak tahun 2013 lalu, namun sampai saat ini belum juga terealisasi,”ujarnya, Rabu 11 September 2024.
Abdul Kadir menyampaikan, jika jembatan ini nantinya dapat dibangun, tentu akan mempermudah akses transportasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di Kelurahan Mentaya Seberang dan sekitarnya. Sehingga bisa membuka ke terisolasian beberapa desa yang ada di wilayah itu yang selama ini kesulitan menjangkau kota.
“Dengan adanya penghubung antarkecamatan ini dapat menumbuhkan berbagai sektor terutama ekonomi dan pembangunan infrastruktur,” tegasnya.
Abdul Kadir menilai, meskipun wilayah mentaya seberang sangat dekat dengan ibukota kabupaten, namun karena tidak adanya penghubung jalur darat untuk wilayah tersebut membuat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di wilayah itu sangat lambat.
“Untuk itu kami mendorong agar pembangunan ini segera direalisasikan untuk menjadi pemicu kemajuan yang besar bagi Kabupaten Kotim,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman ( SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar T mengungkapkan, pembangunan jembatan itu belum bisa terealisasi pada tahun 2013 lantaran terjadinya peningkatan drastis anggaran akibat terjadinya inflasi dan perkembangan harga material.
“Waktu itu terjadi peningkatan anggaran, terjadi dua kali lipat dari anggaran sebelumnya. Ke depannya Kami memang menargetkan akan memulai pembangunan ini pada tahun 2025 dan pemerintah Kotim akan mengusulkan pembangunan jembatan ini kepada kementerian PUPR dan meminta rekomendasi dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ),” katanya.
Awalnya pembangunan jembatan itu akan dibangun di jalur yang melewati areal brenzel PT Inhutani III, namun dapat digeser ke lokasi lain sesuai rekomendasi KKJTJ. Karena pembanguakan akan memperhatikan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dan Pelabuhan.
Kemudian direncanakan lagi pembangunan jembatan itu di jalur Jalan Desmon Ali menuju arah sungai, melewati Rumah Makan Batu Mandi, Baamang. Tetapi rencana itu juga gagal karena melewati jalur padat penduduk yang tentunya berimbas pada biaya pembebasan lahan yang tinggi.
Sementara ini, dinas terkait akan terus berkoordinasi dengan PU Provinsi untuk percepatan pembangunan jembatan yang akan terbentang sepanjang 970 meter, meliputi bentang utama 200 meter dan bentang pendekat 770 meter.








