PALANGKA RAYA – Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, kini disorot aparat sebagai salah satu jalur utama masuknya peredaran gelap narkotika di Pulau Kalimantan. Posisi strategis Lamandau yang menjadi lintasan penghubung Kalimantan Barat – Kalimantan Selatan kerap dimanfaatkan jaringan pengedar untuk meloloskan barang haram dalam jumlah besar.
Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra mengakui, ancaman narkotika di wilayahnya sudah masuk kategori darurat dan membutuhkan dukungan nyata bagi aparat penegak hukum.
“Lamandau sekarang jadi perhatian kami karena rawan jadi pintu masuk narkoba. Kami hibahkan dua unit mobil baru ke kepolisian untuk memperkuat pengejaran para pelaku di lapangan,” kata Rizky usai kegiatan di Istana Isen Mulang, Rabu (25/2/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Lamandau menyerahkan dua unit minibus Toyota Rush kepada Polres setempat agar patroli dan pengejaran terhadap jaringan pengedar lebih responsif, terutama di jalur-jalur rawan lintas provinsi.
Terpicu Pengungkapan 35 Kg Sabu
Langkah ini diambil setelah aparat Polda Kalimantan Tengah bersama Polres Lamandau membongkar jaringan pengedar dengan barang bukti fantastis: puluhan kilogram sabu dan belasan ribu butir ekstasi. Dalam operasi tersebut, petugas bahkan terlibat kejar-kejaran berkecepatan tinggi di jalur darat lintas Kalimantan.
“Keberhasilan itu tak lepas dari kemampuan mobilitas petugas di lapangan. Karena itu kami perkuat sarana operasional Polres Lamandau supaya penindakan makin cepat dan efektif,” tegas Rizky.
Ia menambahkan, penanganan peredaran narkotika di Lamandau tidak bisa dibebankan pada satu daerah saja. Menurutnya, dibutuhkan sinergi lintas kabupaten/kota bahkan lintas provinsi di seluruh Kalimantan Tengah.
“Kalau hanya Lamandau yang bergerak, jujur berat. Pengedar terus berubah taktik, kita tak pernah tahu siapa yang melintas dan membawa apa,” ujarnya.
Jalur Trans Kalimantan Dipetakan Rawan
Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Tengah telah memetakan kawasan perbatasan dan jalur Trans Kalimantan sebagai titik rawan peredaran narkotika. Direktur Reserse Narkoba Polda Kalteng, Kombes Pol Slamet Ady Purnomo, menyebut jalur darat masih menjadi favorit jaringan narkoba karena fleksibel dan sulit dipantau secara penuh.
Sementara itu, Kapolda Kalteng Iwan Kurniawan sebelumnya mengungkap kronologi pengungkapan kasus besar awal Februari lalu. Saat itu, kurir nekat melompat dari mobil Toyota Raize dan bersembunyi di hutan selama berjam-jam sebelum akhirnya diringkus aparat.
Dari penggeledahan, polisi menyita 33 bungkus besar sabu seberat lebih dari 35 kilogram serta belasan ribu pil ekstasi. Hingga kini, penyidikan masih terus dikembangkan untuk membongkar jaringan pemasok dan sindikat yang terlibat dalam penyelundupan lintas provinsi tersebut.(nr)








