PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, bersama Wakil Gubernur Edy Pratowo melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Raya Darussalam, Sabtu (20/3/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk kembali pada kesucian diri, mempererat hubungan antarsesama, serta memperkuat ikatan silaturahmi di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan hari kemenangan sebagai titik awal memperkokoh komitmen membangun kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga melalui kepedulian nyata kepada sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangan lupakan saudara-saudara kita yang masih dalam kesulitan. Kepedulian sosial harus terus hidup, tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga dalam keseharian,” tegasnya.
Gubernur juga menyinggung tantangan pembangunan daerah di tengah dinamika global dan nasional, termasuk kebijakan efisiensi anggaran. Meski demikian, ia tetap optimistis dengan semangat Isen Mulang dan falsafah Penyang Hinje Simpei, Kalimantan Tengah mampu mewujudkan cita-cita sebagai daerah yang maju dan sejahtera.
Pada kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan ucapan selamat Idulfitri kepada seluruh masyarakat Kalteng. “Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.
Usai salat, Gubernur juga mengundang masyarakat untuk menghadiri open house di Istana Isen Mulang yang digelar mulai pukul 08.30 hingga 15.00 WIB.
Sementara itu, khatib Salat Idulfitri, Khairil Anwar, dalam khutbahnya menekankan bahwa Idulfitri merupakan simbol kemenangan umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Ia mengingatkan pentingnya menjadikan Idulfitri sebagai momentum kembali ke fitrah, memperkuat keimanan, serta mempererat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, terdapat tiga pilar utama dalam menjaga keharmonisan, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air).
Khairil Anwar menilai kondisi sosial masyarakat Kalimantan Tengah saat ini tergolong kondusif, dengan sikap saling menghargai di tengah keberagaman.
“Perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru menjadi kekuatan dalam membangun daerah, baik secara fisik maupun moral,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa agar tidak mudah terpecah oleh berbagai kepentingan yang dapat melemahkan keutuhan negara.
Selain itu, umat Islam diajak untuk terus menumbuhkan semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah, serta menjaga nilai-nilai kepedulian sosial yang telah terbentuk selama Ramadan.
Dalam khutbahnya, Khairil Anwar turut mengapresiasi berbagai program kesejahteraan Pemerintah Provinsi Kalteng, termasuk program Kartu Huma Betang Sejahtera yang dinilai memberikan perhatian kepada para ustaz, guru mengaji, hingga marbot masjid.
“Program ini sangat membantu para pelayan umat yang selama ini berperan penting dalam dakwah dan pembinaan masyarakat, meski di tengah keterbatasan anggaran,” pungkasnya.(nr)








