SAMPIT – Setelah melalui audiensi panjang dan penuh perdebatan antara panitia Gubernur Motorprix 2025 dengan pengurus Gereja Katolik St. Joan Don Bosco, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akhirnya memutuskan bahwa event road race tetap dilaksanakan di kawasan Taman Kota Sampit pada 13–14 Desember 2025.
Audiensi berlangsung panas di Ruang Anggrek Tewu, Lantai II Kantor Bupati Kotim, Selasa (9/12/2025), sempat memunculkan dinamika tajam. Meski Dewan Paroki dan sejumlah pihak bersikeras menolak lokasi Taman Kota, keputusan akhir memastikan ajang balap tersebut tidak mengalami relokasi.
Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, sebelumnya mengusulkan dua opsi pemindahan lokasi untuk mengurangi potensi gangguan terhadap aktivitas gereja, fasilitas kesehatan, dan masyarakat sekitar Jalan Yos Sudarso. Alternatif yang diajukan yaitu lintasan di kawasan GOR Habaring Hurung atau memindahkan pelaksanaan ke Sirkuit Sabaru Palangka Raya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Usulan ini hanya opsi jika memang harus dipindahkan, agar tidak mengganggu gereja, klinik, dan layanan masyarakat lain,” ujar Raihansyah.
Menurut Dishub, opsi penggunaan Sirkuit Sabaru pun lebih menjamin kelayakan dan keamanan teknis, apalagi event membawa nama Gubernur Cup. Namun IMI Kotim tetap menjadi penyelenggara jika lokasi dipindah.
Namun Ketua IMI Kotim, Angga Aditya Nugraha, menegaskan pemindahan ke Palangka Raya tidak mungkin dilakukan karena Sirkuit Sabaru saat ini dilarang mengadakan event hingga agenda Porprov 2026.
“Sesuai kesepakatan, Sirkuit Sabaru tidak boleh dipakai lagi untuk event balap sampai Porprov 2026,” tegasnya.
Terkait opsi memindahkan lintasan ke titik lain di Sampit, ia menilai standar teknis road race nasional tidak bisa dipenuhi. Mulai dari kondisi permukaan aspal, lebar trek, hingga aspek keselamatan, semuanya belum teruji di lokasi alternatif.
Menurut Angga, lintasan Taman Kota justru telah memenuhi standar kecepatan, titik pengereman, dan keselamatan. Memaksakan pemindahan hanya akan menimbulkan risiko baru.
Meski demikian, panitia menyatakan tetap terbuka terhadap keberatan gereja dan fasilitas kesehatan. Sejumlah kompromi pun disepakati.
“Kami setuju akses khusus untuk gereja dan klinik, tidak memakai sound system, memindahkan garis start, serta menyesuaikan jam kegiatan. Prinsipnya, kita cari titik tengah tanpa merugikan siapa pun,” jelas Angga.
Panitia juga menegaskan bahwa Taman Kota merupakan lokasi paling ideal untuk kapasitas penonton yang diprediksi mencapai lebih dari 10.000 orang. Perpindahan lokasi dikhawatirkan menyulitkan penataan penonton dan UMKM yang sudah disiapkan di sekitar area eks Mentaya dan Inhutani.
Selain itu, panggung utama dan VIP dipastikan tidak akan ditempatkan di depan fasilitas kesehatan. Sebagai solusi tambahan, garis start–finish diputuskan dipindah ke Jalan S. Parman sisi selatan Taman Kota, dengan komitmen penuh untuk menjaga akses keluar-masuk Rumah Sakit Terapung tetap steril dan bebas kerumunan penonton.(nr/sekaltengcom)








