PALANGKA RAYA – Setelah menimbulkan kehebohan dengan video bernada ancaman blokade logistik yang menyebar luas di media sosial, Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) akhirnya buka suara. Dalam pernyataan resminya, GSJT menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf kepada publik, khususnya kepada Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran.
Koordinator GSJT, Supriyono, dalam video klarifikasinya, Rabu (23/7/2025), menyatakan penyesalan atas kegaduhan yang terjadi. Ia mengakui bahwa pernyataan sebelumnya muncul akibat kesalahpahaman terhadap penindakan kendaraan ODOL (Over Dimension Over Loading) yang dilakukan di Kalimantan Tengah.
“Saya Supriyono, Koordinator GSJT, menyampaikan permohonan maaf jika video kami yang sempat beredar menimbulkan keresahan, terutama terkait reaksi atas razia terhadap truk ODOL,” ujar Supriyono.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa pada 24 Juni 2025, pihaknya telah mengikuti audiensi resmi bersama sejumlah pejabat kementerian dan lembaga terkait di Kementerian Perhubungan. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa penindakan terhadap truk logistik ODOL akan dihentikan sementara hingga regulasi nasional menuju zero ODOL pada 2027 diberlakukan.
Namun demikian, lanjutnya, GSJT sempat salah paham terhadap konteks razia yang terjadi di Kalteng. Mereka menduga kebijakan tersebut bertentangan dengan hasil audiensi nasional. Setelah ditelusuri, ternyata penindakan tersebut berdasarkan peraturan daerah (Perda) yang berlaku secara lokal.
“Ternyata itu adalah bagian dari implementasi Perda yang berlaku di Kalimantan Tengah, khususnya terkait pengawasan terhadap truk pengangkut hasil tambang, kayu, dan sawit. Jadi bukan truk logistik umum,” jelasnya.
Supriyono juga menegaskan bahwa perjuangan GSJT murni untuk membela nasib sopir logistik, dan sama sekali tidak bermaksud memicu isu-isu bernuansa SARA.
“Kami tidak pernah membawa isu suku, agama, ras, dan golongan. Kami hanya ingin memperjuangkan hak para sopir logistik agar bisa bekerja dengan tenang dan aman,” katanya.
Menutup pernyataannya, Supriyono menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Kalimantan Tengah dan Gubernur Agustiar Sabran yang merasa tersinggung atas video tersebut.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, tidak ada maksud merendahkan atau mengancam. Kami hanya ingin menyuarakan keresahan sopir logistik di tengah transisi kebijakan ODOL,” pungkasnya.(nr/sekaltengcom)








