SAMPIT – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Disdik Kotim), Muhammad Irfansyah, mengungkapkan bahwa tingkat literasi membaca di wilayahnya tergolong rendah. Hal ini dianggap sebagai refleksi dari tren nasional, di mana minat baca secara umum mengalami penurunan, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih menyukai konten visual.
“Berdasarkan survei, tingkat membaca di Kotim masih rendah. Ini bukan hanya terjadi di Kotim, tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Hampir seluruh wilayah menghadapi persoalan serupa terkait literasi membaca,” katanya, Senin (20/1).
Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) dan dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara terkait tingkat literasi. Temuan ini menempatkan Indonesia di kelompok 10 negara dengan tingkat literasi terendah di dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tingkat nasional, hasil survei menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah (Kalteng) berada di posisi ke-22 dari 34 provinsi di Indonesia, dengan Indeks Aktivitas Literasi Membaca hanya mencapai 33,86 persen. Sebagai salah satu kabupaten di Kalteng, Kotim juga termasuk dalam kategori dengan tingkat literasi membaca yang rendah.
Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab rendahnya literasi membaca adalah kecenderungan generasi Z untuk lebih menyukai konten berbasis visual. “Anak-anak generasi Z sekarang cenderung lebih menyukai menonton atau mendengarkan video dibanding membaca. Jika dulu anak-anak aktif membaca, sekarang mereka lebih suka diam, melihat, dan mengamati,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya meningkatkan literasi membaca dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Saat ini, pemerintah pusat sedang merumuskan konsep baru untuk menghidupkan kembali budaya membaca. Konsep ini akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan generasi muda masa kini,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan minat baca di kalangan anak-anak dan remaja, sekaligus menciptakan generasi yang lebih literat dan kritis di masa depan. Dengan dukungan berbagai pihak, Disdik Kotim optimis bahwa perubahan ini dapat terwujud secara bertahap. (nr/sekaltengcom)








