NANGA BULIK – Dalam 100 hari pertama masa kepemimpinannya, Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam membangun relasi antara pemerintah dan masyarakat. Pria yang dikenal luas dengan gaya kepemimpinan yang membumi ini, menjadikan rumah jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan sebagai ruang terbuka untuk semua lapisan warga.
Tidak seperti kebanyakan kepala daerah yang menjaga jarak lewat protokoler dan pagar pengamanan, Rizky justru menghapus sekat antara dirinya dan rakyat. Ia memaknai jabatan bupati sebagai bentuk pengabdian total.
“Saya bukan raja, saya pelayan masyarakat. Sejak dilantik, saya telah menyerahkan diri sepenuhnya untuk masyarakat Lamandau. Rumah jabatan bukan milik pribadi saya, tapi milik rakyat,” ucapnya. Selasa (15/4).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu langkah nyata yang ia tempuh adalah membuka pintu rumah dinasnya bagi siapa pun yang ingin datang. Di sana, masyarakat dapat berdialog, bersantap bersama, bahkan sekadar bersantai tanpa rasa sungkan. Ia berkomitmen menjadikan rumah jabatan sebagai tempat interaksi sosial yang egaliter.
Bahkan lebih dari itu, Rizky kini tengah mempersiapkan skema logistik agar setiap warga yang datang ke rumah jabatan dapat menikmati hidangan sederhana secara rutin. Ia menyebut, timnya sedang merancang sistem konsumsi harian agar makan bersama di rumah jabatan bisa berlangsung secara berkelanjutan.
“Kami sedang formulasikan bagaimana agar setiap hari tersedia makanan bagi warga yang berkunjung. Ini bukan hanya soal makan, tapi soal kebersamaan dan komunikasi yang sehat antara pemimpin dan rakyat,” jelasnya.
Selain membuka rumah jabatan, Rizky juga memperkenalkan pola kerja lapangan yang konsisten. Ia mengalokasikan akhir pekan untuk turun langsung ke desa-desa di seluruh wilayah Lamandau. Dari Jumat hingga Minggu, ia akan menyusuri kampung, berbincang dengan warga, dan meninjau kondisi infrastruktur serta layanan dasar di pelosok.
“Saya ingin tahu langsung apa yang masyarakat butuhkan. Dengan turun langsung, saya bisa merasakan denyut nadi warga desa, bukan hanya menerima laporan di balik meja,” katanya.
Sementara Senin hingga Kamis ia tetap menjalankan tugas pemerintahan dari kantor kabupaten. Skema kerja penuh selama tujuh hari ini ia pilih sebagai bentuk komitmen untuk hadir sepenuhnya dalam membangun Lamandau.
Langkah-langkah tak biasa ini mengundang perhatian luas, baik dari masyarakat maupun pengamat pemerintahan. Gaya kepemimpinan Rizky disebut-sebut bisa menjadi inspirasi model kepemimpinan transformatif yang lebih dekat dengan rakyat, tanpa mengorbankan ketegasan dalam tata kelola daerah.
“Kepemimpinan itu bukan hanya soal kebijakan, tapi soal kehadiran. Saya ingin rakyat tahu, pemimpinnya selalu ada di samping mereka,” pungkasnya. (nr/sekaltengcom)








