NANGA BULIK – Kabupaten Lamandau mencatat sejumlah indikator strategis pembangunan daerah pada 2024–2025 yang menunjukkan tren positif. Meski masih menghadapi tantangan di sektor harga dan produksi pangan, kinerja ekonomi, sosial, hingga kesejahteraan masyarakat relatif stabil.
Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Lamandau pada Triwulan II-2025 mencapai 3,44 persen (year-on-year). Sementara dari sisi harga, Indeks Perkembangan Harga (IPH) tercatat 0,20 persen pada Juli, naik tipis menjadi 0,21 persen pada Agustus, lalu terkoreksi minus 0,65 persen pada minggu ketiga September.
Dari aspek sosial, persentase penduduk miskin hanya 3,33 persen (Maret 2025), jauh di bawah rata-rata nasional. Tingkat pengangguran terbuka juga tergolong rendah, yakni 3,17 persen pada Agustus 2024.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rasio gini sebesar 0,28 menegaskan ketimpangan di Lamandau masih pada kategori rendah (<0,4). Kondisi ini menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat relatif merata.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lamandau pun mencapai 73,95 pada 2024, masuk kategori tinggi. Indikator lain juga mendukung: umur harapan hidup 73,59 tahun, harapan lama sekolah 12,53 tahun, dan rata-rata lama sekolah 8,82 tahun. Rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan tercatat Rp12,28 juta per tahun.
Dari sisi makroekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) Lamandau mencapai Rp2,189,5 miliar pada Triwulan II-2025. Jika dihitung per kapita, nilainya setara Rp79,71 juta per tahun (2024).
Jumlah penduduk Lamandau berdasarkan proyeksi sensus 2020 mencapai 105,21 ribu jiwa pada 2025, menjadi salah satu kabupaten dengan populasi terkecil di Kalimantan Tengah, namun dengan capaian indikator pembangunan cukup kompetitif.
Di sektor produksi pangan, luas panen padi pada 2024 mencapai 288,41 hektare dengan total produksi beras sebesar 473,07 ton. Meski belum besar, sektor pertanian tetap menjadi penopang kebutuhan pangan lokal.
Sementara itu, perkebunan sawit rakyat masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Tahun 2024 tercatat luas areal sawit rakyat mencapai 35.991 hektare dengan produksi tandan buah segar mencapai 112.071 ton.
Menanggapi capaian ini, Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra menegaskan bahwa pencapaian indikator pembangunan tidak boleh membuat daerah terlena.
“Capaian ini memang membanggakan, terutama rendahnya angka kemiskinan dan ketimpangan. Namun kita tidak boleh berpuas diri. Masih ada PR besar dalam meningkatkan produktivitas pangan, memperkuat daya saing ekonomi daerah, dan menjaga stabilitas harga agar tidak terlalu fluktuatif,” ujarnya, Senin (22/9).
Rizky menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan program pembangunan yang menyentuh langsung masyarakat. “Fokus kami adalah mendorong sektor pertanian dan perkebunan rakyat agar semakin produktif, sekaligus memperkuat kualitas SDM melalui pendidikan dan kesehatan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Lamandau bisa lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Secara umum, potret pembangunan Lamandau menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, penguatan kualitas hidup, dan pemerataan kesejahteraan. Semangat pemerintah daerah untuk menjaga momentum ini diharapkan mampu menjadikan Lamandau sebagai kabupaten yang terus melaju dengan pembangunan yang berkeadilan. (nr/sekaltengcom)








