Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berupaya meningkatkan layanan telekomunikasi di wilayahnya yang luas, khususnya di daerah terpencil yang masih mengalami kendala akses internet. Melalui program pemasangan Starlink, Kotim menargetkan untuk menghilangkan blank spot dan susah sinyal di seluruh wilayah pada tahun 2025.
“Pemerintah daerah ini mengembangkan jaringan intra pemerintah daerah, pengertiannya tentu pelayanan telekomunikasi jadi kewenangan Pemerintah daerah. Salah satunya adalah pengembangan jaringan intra pemerintah daerah, tentu di sini kita diberi kewenangan untuk meningkatkan layanan komunikasi,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kotim, Marjuki, Rabu 30 Oktober 2024.
Wilayah Kotim yang luasnya mencapai 16.796 Km² terdiri dari 168 desa, 17 kelurahan, dan 17 kecamatan, dengan berbagai kondisi memang menyulitkan akses internet atau susah sinyal di beberapa daerah. Pada awal tahun 2024, terdapat 8 desa yang mengalami blank spot dan 30 desa yang susah sinyal. Melalui program Starlink, Kotim berhasil mengurangi jumlah desa yang susah sinyal menjadi 6 desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sekarang kita bisa memperkecil menjadi sisa 6 desa yang susah sinyal. Ini nanti akan kita usulkan kembali di 2025 dengan pengadaan Starlink,” ujar Marjuki.
Keenam desa yang masih susah sinyal tersebut adalah Desa Sei Ubar Mandiri, Tumbang Koling, Rawa Sari, Ganepo, Tanah Mas, dan Desa Selucing Cempaga Hulu. Marjuki menyebut sinyal di enam desa tersebut timbul tenggelam atau hanya ada di titik tertentu. Sehingga pihaknya berupaya pada tahun 2025 mendatang bisa tuntas, dan semua desa dapat terakses internet dengan baik.
“Tahun ini melalui Kominfo telah memasang 4 unit Starlink di tiga desa dan satu kecamatan, yaitu di Kecamatan Tualan Hulu, Sungai Hanya, Desa Biru Maju, dan Desa Hanjalipan. Program Starlink ini sangat efektif untuk mengatasi masalah blank spot dan susah sinyal di daerah-daerah terpencil,” ungkapnya.
Program Starlink telah memberikan dampak positif bagi masyarakat di daerah yang terlayani. Program ini terus berlanjut hingga 2025 mendatang. Pasalnya Pemkab Kotim telah berkomitmen agar tidak ada lagi jarak.
“Jadi, kita namakan bahwa 2025 Kotim ini tidak ada lagi jarak, dengan mempersempit ruang dan waktu. Saya bisa memastikan 2025 itu tidak ada lagi kita ini blank spot maupun susah sinyal. Karena komitmen pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Kotim bahwa dengan adanya Starlink ini, saya rasa sangat dimungkinkan, karena pengadaan Starlink lebih murah dibandingkan VSAT,” paparnya.
Marjuki juga menjelaskan tentang program VSAT yang merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Kominfo. Kabupaten Kotim tahun 2024 ini mendapatkan 31 unit VSAT. Dari jumlah tersebut yang telah terpasang ada 24 dan dilaporkan sudah aktif.
“VSAT ini tidak memerlukan jaringan listrik, langsung satelit. Jangkauannya memang tidak terlalu luas, hanya 5-60 meter dari area tempat dipasang, misalnya di sekolah. Tapi ini sangat membantu juga terutama di sektor pendidikan untuk layanan ujian-ujian sekolah yang online semua,” jelasnya.
Pihaknya berharap dengan adanya program Starlink dan VSAT, akses internet di Kotim semakin merata dan dapat mendukung kemajuan di berbagai sektor, terutama pendidikan.
“Harapannya, Kotim akan menjadi daerah yang terhubung dengan baik dan dapat bersaing dengan daerah lain dalam hal akses informasi dan teknologi,” harapnya.








