PALANGKA RAYA – Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Yuas Elko menyimak rapat pengendalian Inflasi bersama Menteri Dalam Negeri, yang dipimpin oleh Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir secara virtual. Aula Bajakah, Senin, 24 Februari 2025.
Tomsi menegaskan bahwa rapat ini berfokus pada daerah yang kerap mengalami kenaikan harga saat Ramadan dan Idul Fitri. Pemerintah berharap untuk Ramadan tahun ini betul-betul dapat mengendalikan harga untuk masyarakat
“Oleh sebab itu kita hanya bicara daerah mana dan barang apa yang naik harganya. Teman-teman di daerah akan kami tunjuk secara bergiliran dan kami berharap upaya-upayanya jelas konkret sebagai juru bicara nanti dari pemerintah daerah itu mewakili teman-teman forkopimda di situ,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tomsi juga akan memantau bagaimana prediksi kenaikan harga di daerah terdampak, hasil upaya konkret, serta target dari setiap kepala daerah.
“Kita bisa memperkirakan pada awal Ramadan nanti bahwa kita mampu untuk mengendalikan Inflasi tahun ini untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat,” Ujarnya.
Dijelaskan oleh Plh. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Habibullah, Tinjauan inflasi dan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu ketiga Februari 2025 secara historis sebagian besar kabupaten kota IHK mengalami inflasi pada bulan Ramadan yang dominan terjadi di kabupaten kota di luar pulau Jawa dan Sumatera.
Pada Maret 2024 (Ramadan), 136 kabupaten/kota mengalami inflasi pada Kabupaten Nabire (1,86), Kota Kotamobagu (1,72), Kabupaten labuhanbatu (1,62), Kabupaten kerinci (1,41), kabupaten Sumbawa (1,31).
“Selama 5 tahun terakhir selalu terjadi inflasi pada momen Ramadan kelompok: makanan, minuman dan tembakau dengan andil terbesar. Kecuali pada tahun 2020 yang bersamaan dengan covid 19,” jelas Habibullah.
Pada bulan Ramadan 2024 (Maret), terjadi inflasi 0,52% dengan andil kelompok makanan minuman dan tembakau sebesar 0,41%. Adapun pada Maret 2024 komoditas dengan andil terbesar yaitu telur ayam ras, daging ayam ras beras cabe rawit dan bawang putih.
Inflasi bulan ke bulan regional Sumatera, tertinggi yaitu Sumatera Utara 0,72%, regional Jawa di Banten 0,98%, regional Kalimantan yaitu Kalimantan Tengah 0,66%, regional Bali Nusa Tenggara yaitu di Bali 0,93%, regional Sulawesi yaitu Sulawesi Utara 1,07% regional Maluku Papua yaitu Papua Tengah 1,01%.
“Indeks perkembangan harga (IPH) pada minggu ketiga Februari 2025, terdapat 8 provinsi yang mengalami kenaikan IPH dan 30 provinsi yang mengalami penurunan IPH dibanding bulan sebelumnya. komoditas penyumbang andil kenaikan IPH di 8 provinsi tersebut yaitu cabai merah, cabe rawit, dan beras,” sebut Habibullah.
Dari andil komoditas utama, IPH tertinggi di Sumatera yaitu Kab. Kepulauan Mentawai dengan nilai perubahan IPH 7,57%, komoditas cabai merah, daging ayam ras.
“Di Pulau Jawa, kenaikan IPH terjadi di 5 kabupaten kota, tertinggi di Kab. Bangkalan dengan andil beras, cabe merah, dan cabe rawit. Sedangkan di luar Pulau Jawa dan Sumatera, tertinggi IPH di Papua Selatan yaitu Kab. Boven Digoel dengan nilai perubahan 6,94% yang didominasi oleh cabe merah, daging sapi, cabe rawit,” paparnya.
Sementara itu Aula Bajakah, Yuas menanggapi hal ini berkoordinasi dengan TPID serta kabupaten kota agar melakukan penyediaan stok terkait komoditas yang disebutkan oleh BPS pusat.
“Ini kita lakukan untuk menjaga inflasi agar terkendali dan masyarakat bisa menikmati harga yang wajar. Kita harus menyediakan stok dan mengantisipasi lonjakan harga, sehingga inflasi kita tidak naik dan stabil selama Ramadan,” tuturnya.








