KOTAWARINGIN TIMUR – SMP Negeri 1 Sampit mengukuhkan komitmen kolaborasi antara guru dan orangtua sebagai fondasi utama pendidikan. Hal ini tergambar jelas saat ratusan wali murid memadati acara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026, yang berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan pada Jumat, (18/7/2025)
Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, menegaskan peran aktif orangtua sejak hari pertama anak masuk sekolah menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter dan prestasi.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah simbol kepercayaan orangtua kepada sekolah sebagai rumah kedua bagi anak-anak mereka. Kami sepakat menjalin komunikasi langsung, terbuka, dan tanpa perantara demi kebaikan bersama,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara yang diikuti 288 siswa baru ini dikemas penuh makna, mulai dari pembacaan ikrar siswa berprestasi, prosesi candle of hope oleh orangtua, hingga momen kebersamaan yang menumbuhkan kedekatan emosional antara keluarga dan pihak sekolah.
Suyoso menambahkan, suasana yang hangat dan penuh perhatian adalah cerminan filosofi pendidikan di SMPN 1 Sampit.
“Di sini anak-anak tidak hanya belajar akademik, tapi juga dibimbing, dipantau kesehatannya, dan dibentuk karakternya secara positif,” tegasnya.
Dukungan orangtua pun mengalir deras. Elpiana Saconk dari Komite Sekolah menilai, keterbukaan komunikasi yang dibangun pihak sekolah telah menyentuh hati para wali murid.
“Kami merasa dilibatkan sepenuhnya. Komite siap menjadi jembatan demi kemajuan sekolah,” katanya.
Wali murid lainnya, Catur Santoso, mengaku bangga anaknya bisa bergabung di sekolah ini.
“Kegiatan MPLS ini membuat kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang solid. Kami percaya potensi anak kami akan berkembang maksimal di sini,” ucapnya.
Senada, Muhammad Rasid menyoroti program unggulan seperti peneliti muda yang berpeluang melaju ke tingkat nasional.
“Semangat guru dan orangtua benar-benar terasa. Anak saya tertarik ikut program itu, semoga jadi awal yang baik,” ungkapnya.
Bagi Chandra Junawanti, keterbukaan guru dan pihak sekolah menjadi nilai tambah tersendiri.
“Anak kami yang dulu bersekolah di sini berkembang dengan baik. Harapannya, adiknya bisa mengikuti jejak itu,” tuturnya.
Sementara bagi siswa baru seperti Aftar Abdillah Bagaskara, momen MPLS meninggalkan kesan yang manis.
“Kakak-kakaknya ramah, pendamping baik, dan saya merasa diterima,” katanya dengan senyum.
Lewat pendekatan yang melibatkan hati dan pikiran seluruh pihak, SMPN 1 Sampit menegaskan bahwa pendidikan adalah proses kolaboratif untuk membentuk generasi tangguh—bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter.(nr)








