PALANGKA RAYA – Sanggar Seni Bukit Kahias berkolaborasi dengan 9 (sembilan) sanggar seni di Kota Palangka Raya, seniman teater, komposer musik, mementaskan Sendratari yang bertajuk “Legenda Batu Bawui” di panggung teater terbuka UPT Taman Budaya Kalteng.
Ketua produksi Maria Magdalena mengungkapkan, sendratari ini dipentaskan bertujuan mengangkat cerita rakyat Desa Tumbang Miwan Kabupaten Gunung Mas, yang memiliki cagar budaya sebuah batu yang disebut “Batu Bawui” oleh masyarakat setempat.
Proses produksi mulai dari riset, survei lokasi, wawancara narasumber utama Tony Siantury Tundan, membuat tim produksi semakin yakin bahwa cerita ini sangat bagus dikenalkan ke masyarakat. Rabu, 26 Februari 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita riset tidak sembarangan mengangkat suatu legenda, karena ada bukti peninggalan fisiknya. Kita bertemu narasumber utama lalu ketemu juga dengan bue (kakek) tambi (nenek) nya dari ayahnya. Di Legenda Batu Bawui ini di dalamnya ada kisah percintaan dan sangat cocok untuk dipentaskan di bulan Februari yang merupakan bulan kasih sayang,” tutur Maria.
Legenda ini berkisah tentang lelaki jatuh cinta pada seorang wanita dari alam gaib, terpaksa terpisah takdir karena pelanggaran janji manusia terhadap sebuah aturan. Ketika pasangan tersebut hendak menikah, sang wanita menyampaikan syarat pantangan tidak boleh membakar apapun yang menimbulkan bau menyengat.
Akan tetapi karena ada warga yang meremehkan aturan/pantangan tersebut bahkan tidak percaya, mereka pun membakar babi dengan tujuan membersihkan bulunya.
Mengetahui ada yang melanggar aturan, sang perempuan pun kecewa dan marah terhadap calon suaminya beserta warga. Ia menyentuh babi tersebut sehingga menjadi Batu Bawui.
Selain itu Maria mengungkapkan, perjalanan menuju cagar budaya Batu Bawui tidak mudah. Harus melalui 1 kilometer lebih ke dalam wilayah hutan. Tidak dapat menggunakan kendaraan mobil maupun motor, hanya dapat menggunakan perahu di jam tertentu serta dengan berjalan kaki.
“Jadi karena kita pernah terjun langsung ke sana, harapannya supaya cagar budaya ini lebih diperhatikan karena memang Batu Bawui ini jalur transportasinya susah, harus melewati menempuh jalan kaki yang jauh, tracknya susah tidak bisa dilewati motor mobil hanya bisa dilewati perahu. Jadi mungkin apabila ke depannya pemerintah bisa lebih memperhatikan supaya orang-orang yang ingin berkunjung melihat langsung penasaran bagaimana bentuknya,” harap Maria.
Sementara itu sang sutradara Glory Kriswantara, mengapresiasi pentas ini dengan balutan kreativitas pertunjukan etnik dan modern, agar dapat melekat di generasi muda yang kekinian.
“Tidak hanya etnik saja, sendratari ini kita buat inovatif sifatnya kita coba angkat lebih kekinian utamanya di musik. Kita ingin ada fleksibilitas seni sehingga cepat melekat di generasi muda kekinian, dengan menggabungkan genre modern maupun tradisional,” tutur Glory.
Ia juga berpesan kepada generasi muda, untuk terus mendukung seni budaya Kalimantan Tengah sebagai literasi pengetahuan, nilai-nilai luhur, dan sejarah. Glory juga mengharapkan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian kebudayaan.
“Kita yakin bahwa seniman-seniman dari Kalimantan Tengah bersama pemerintah bisa membangun seni serta pariwisata, tidak kalah dengan daerah lain baik tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya. (dcc/sekaltengcom)








