JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meluncurkan Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta, pada Senin (24/2). Acara peluncuran berlangsung di Istana Negara dihadiri oleh sejumlah pengusaha dan tokoh penting dari berbagai sektor bisnis di Indonesia.
“Saya Presiden RI meluncurkan Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara Danantara Indonesia,” kata Prabowo di Istana Kepresidenan.
Saat meresmikan Danantara, Prabowo didampingi para mantan presiden dan wakil presiden yang hadir serta perwakilan pejabat terkait. serta Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prabowo menyampaikan bahwa peluncuran Danantara menjadi momen yang sangat penting bagi pengusaha nasional untuk semakin mempererat koneksi.
“Saat ini hadir tokoh-tokoh pengusaha nasional dan ketua organisasi pengusaha,” ujarnya, sembari menyebut beberapa nama pengusaha besar yang hadir dalam acara tersebut.
Hadir dalam acara tersebut adalah Chairul Tanjung, pendiri dan pemimpin bisnis CT Corp yang memiliki berbagai perusahaan besar, termasuk Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources. Selain itu, terdapat juga Franky Oesman Widjaja, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin utama Sinar Mas Group, konglomerat besar yang bergerak di sektor agribisnis, properti, energi, dan telekomunikasi.
Hadir pula Haji Isam, konglomerat asal Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai Crazy Rich Batulicin dan pemilik Jhonlin Group, yang berfokus pada perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara. Selain itu, Anindya Novyan Bakrie, Presiden Direktur Bakrie & Brothers dan penerus Grup Bakrie, juga turut menghadiri acara tersebut.
Tak ketinggalan, Garibaldi Thohir, atau Boy Thohir, Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, serta sejumlah pengusaha terkemuka lainnya juga hadir mendukung peluncuran BPI Danantara.
Melalui Danantara, pemerintah akan menginvestasikan sumber daya alam serta aset-aset negara sehingga diharapkan badan ini dapat mendorong berbagai proyek yang memiliki dampak besar dan berkelanjutan bagi Indonesia. Danantara akan mengonsolidasikan Indonesia Investment Authority (INA) dan tujuh badan usaha milik negara yang telah tergabung dalam Danantara sebagai tahap awal ialah Bank Mandiri, Bank BRI, PLN, Pertamina, BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID.
Prabowo menjelaskan bahwa Danantara akan menginvestasikan sumber daya alam dan aset negara ke dalam proyek-proyek yang berkelanjutan dan berdampak tinggi di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan, manufaktur canggih, industri hilir, dan produksi pangan. Dia berharap semua proyek tersebut dapat berkontribusi pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen. Menurut Kepala Negara, pendanaan awal untuk Danantara diproyeksi mencapai 20 miliar dollar AS.
“Pendanaan awal di tahun ini akan mencapai 20 miliar dollar AS. Saya rasa ini akan menjadi langkah yang transformatif. Kami berencana untuk memulai sekitar 15 hingga 20 proyek bernilai miliaran dollar, yang akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi negara kami,” ungkapnya.
Berdasarkan proyeksi yang disampaikan oleh The Financial Times Stock Exchange (FTSE), BPI Danantara berpotensi menjadi salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia dengan nilai kelolaan diperkirakan mencapai US$ 900 miliar (sekitar Rp 14.616 triliun). Jika terwujud, Danantara bisa melampaui GIC (Government of Singapore Investment Corporation), salah satu dana kekayaan negara terbesar di Singapura.
FTSE optimistis bahwa BPI Danantara akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global dan menarik lebih banyak investor, baik domestik maupun asing. Dengan dana kelolaan yang besar, Danantara diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pasar investasi Indonesia.(nr/sekaltengcom)








